ISD Services Week, Expert Panel 2: Membangun Sumber Daya Manusia Melalui Keterampilan Digital

Created @ 26-10-2022

Event Date : 2022-10-26

Dengan populasi sebesar 272 juta dan pengguna internet sebesar 175 juta dibarengi penetrasi telepon seluler yang tinggi membuat Indonesia menjadi pasar ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara. Peluang muncul, begitu pula dengan tantangan dalam mewujudkan ekonomi digital yang adil dan berkelanjutan. Turut terdampak perkembangan pesat teknologi digital, pasar tenaga kerja berubah dan meningkatkan harga keterampilan dari pekerja terampil dan mendorong munculnya berbagai platform digital yang menciptakan lapangan pekerjaan dengan model crowd-work dan gig-work serta pengaturan jam kerja yang fleksibel. Situasi tersebut merefleksikan kesenjangan antara persediaan pekerja terampil dengan permintaannya, karena ketidakselarasan dengan keterampilan relevan yang dibutuhkan industri. Akibatnya, pekerja dengan keterampilan relevan yang sangat dibutuhkan dapat memasuki pasar kerja dengan relatif lebih mudah dibandingkan dengan mereka yang tidak, sehingga membawa disparitas akses pengembangan keterampilan digital dan pasar kerja digital yang membuat kesenjangan semakin lebar. Pada sisi lain, literasi digital masih relatif rendah. Maka, sangat penting untuk meningkatkan literasi digital untuk perkembangan transformasi digital di Indonesia. Literasi disini diartikan pada dua aspek penting, yaitu kemampuan menggunakan informasi dan teknologi digital di bermacam format dan kemampuan menciptakan informasi digital lalu evaluasi secara kritis. Meskipun yang pertama lebih umum, dengan kesenjangan karena ketersediaan infrastruktur, aspek yang kedua (kemampuan untuk menyaring dan informasi penting) berada dalam situasi yang jauh lebih buruk. Ditambah lagi, World Bank Gender Data (2022) menunjukkan bahwa masih ada kesenjangan gender pada lulusan STEM dan ICT di Indonesia. Berdasarkan data, pada tahun 2018 hanya 34.7% lulusan ICT di Indonesia adalah wanita, sedangkan di Malaysia menunjukkan angka 46%. Di data yang sama, lulusan STEM di Indonesia hanya mencapai 37% wanita. Pada realitanya, literasi digital juga berhubungan dengan keterampilan digital, dimana literasi yang cukup dapat membentuk tenaga kerja yang kompeten secara digital melalui populasi yang terbiasa dengan digital. Maka, pengembangan sumber daya manusia pada keterampilan dan literasi untuk menyeimbangkan dengan permintaan tenaga kerja pada ekonomi digital menjadi sebuah keharusan. Investasi pada pengembangan sumber daya manusia untuk memperoleh keterampilan digital yang lebih maju dan literasi digital yang lebih baik merupakan kunci untuk mengembangkan ekonomi digital yang adil dan berkelanjutan. Apabila tercapai, maka populasi Indonesia tidak lagi hanya merupakan target pasar, namun dapat menjadi peserta aktif dan menjadi kekuatan untuk transformasi digital di Indonesia. Dalam diskusi ini, diharapkan dapat didiskusikan isu-isu terkait digital skills, antara lain: a. Bagaimana perkembangan regulasi pada keterampilan digital dan talenta digital? b. Bagaimana pembentukan kurikulum/modul pelatihan yang melibatkan industri pada pengetahuan lanjutan, terutama pada STEM? c. Apa saja kendala yang ada saat ini dalam mengembangkan modul pelatihan ketrampilan digital? d. Bagaimana meningkatkan inklusi dan representasi perempuan serta disabilitas pada pelatihan ketrampilan digital?