Share on

Bank Indonesia melaporkan, sepanjang tahun lalu terdapat 9,75 juta wisatawan nasional (wisnas) yang melakukan outbound atau berjalanan ke luar negeri.

Berdasarkan data bank sentral, jumlah wisnas yang outbound ke luar negeri pada tahun lalu meningkat sebesar 7,48% dari 2017 yang mencapai 9,07 juta orang.

Adapun, jumlah wisnas yang outbound pada 2017 meningkat sebesar 6,67% dari 2016 yang mencapai 8,5 juta orang.

Sementara itu, rata-rata jumlah pengeluaran untuk belanja (spending) para wisnas yang ke luar negeri pada tahun lalu mencapai US$8,77 miliar, naik 5,8% dari 2017 senilai US$8,28 miliar.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira mengatakan, makin banyaknya wisnas yang ke luar negeri dipicu oleh harga tiket pesawat low cost carrier (LCC) yang relatif lebih terjangkau dibandingkan dengan harga tiket pesawat rute domestik selama 3 tahun terakhir.

“Memang harga tiket ke luar negeri dalam 3 tahun terakhir yang lebih murah ini membuat masyarakat kelas menengah di lebih memilih ke luar negeri ketimbang berwisata di dalam negeri,” ujarnya, Senin (25/2).

Bhima melanjutkan, keterjangkauan harga tiket ke luar negeri itu membuat kelas menengah di Tanah Air mencoba mengalihkan rencana perjalanannya dari dalam negeri untuk bepergian ke luar negeri.

Namun, lanjutnya, pertumbuhan nilai spending wisnas yang outbound memang tidak terlalu kencang lantaran terdapat hambatan dari transaksi barang-barang di luar negeri yang harus menggunakan kurs mata uang asing.

Melemahnya nilai tukar uang rupiah berdampak pada wisnas yang menahan atau mengurangi spending saat berplesir di luar negeri.

“Kalau harga tiket itu kan mereka menggunakan nilai tukar rupiah, bukan mata uang asing. Jadi, masih banyak orang ke luar negeri,” katanya.

Tak dipungkiri, memang dalam beberapa tahun terakhir terdapat pertumbuhan kelas kelas menengah yang sering melancong ke luar negeri.

Sementara itu, wisnas kelas atas lebih cenderung bepergian ke luar negeri untuk perjalanan bisnis atau hanya melakukan perjalanan selama beberapa hari saja.

“Kelas atas cenderung menunda untuk bepergian . Kondisi komoditas yang juga kurang bagus, membuat kelas atas juga menunda perjalanna di dalam negeri,” tutur Bhima.

PROYEKSI 2019

Di sisi lain, Asosiasi Travel Agent Indonesia (Astindo) memproyeksikan, pertumbuhan wisnas yang melakukan outbound sepanjang tahun ini dapat menembus 10%.

Wakil Ketua Umum DPP Astindo Rudiana Jones mengatakan, proyeksi tersebut didasari oleh adanya tren masyarakat Indonesia yang makin gemar ke luar negeri dalam beberapa tahun terakhir.

Secara umum, jika tidak terjadi perubahan atau gejolak yang besar dalam perekonomian Indonesia, pasar outbound Tanah Air diyakini bisa meningkat sebesar 10% pada tahun ini.

“Hal ini terlihat dari pencapaian pada 2018. Kalau dilihat dari tren yang terjadi pada dua bulan terakhir ini, dengan adanya travel fair yang sudah berjalan, memang ada peningkatan 7% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu,” ujarnya, Senin (25/2).

Dia memproyeksikan, jumlah wisnas yang outbound akan merangkak naik seusai perhelatan pemilihan presiden (pilpres) dan pemilihan legislatif (pileg) pada April.

“Ada yang menahan untuk pergi ke luar negeri dahulu. Usai pilpres, jumlah wisnas yang outbound baru akan naik, diperkirakan pertumbuhannya sebesar 10%,” katanya.

Lebih lanjut, Rudiana menjelaskan, sepanjang tahun lalu antusiasme wisnas untuk ke luar negeri tak berkurang kendati mereka memilih untuk menahan belanjanya di tengah gejolak perekonomian Tanah Air dan global.

“Karena suka atau tidak suka dengan pertumbuhan ekonomi yang kurang bergairah akan berdampak pada industri pariwisata secara signifikan,” ucap Rudiana.

Di sisi lain, Ketua Ikatan Cendekiawan Pariwisata Indonesia (ICPI) Azril Azahari berpendapat, spending wisnas terbesar saat ke luar negeri terbagi untuk belanja saat tiba di destinasi sebesar 27%, untuk hiburan 22%, akomodasi sebesar 22%, belanja sebesar 18%, dan makanan sebesar 11%.

“Tren tiap tahun untuk wisnas yang berpergian ke luar negeri memang selalu tinggi. Kenaikan ini terjadi sejak 2014 dan terus menerus berlanjut hingga saat ini,” ujarnya.

Policy Analyst Indonesia Services Dialogue Muhammad Syarif Hidayatullah sebelumnya berpendapat, peningkatan jumlah wisnas yang outbound pada dasarnya tak perlu dikhawatirkan karena merupakan sinyal bahwa perekonomian membaik.

Dia menjelaskan, pihak yang tercatat sebagai pemakai jasa agen perjalanan ke luar (impor) adalah Warga Negara Indonesia (WNI) maupun Warga Negara Asing (WNA) dengan kitas/kitap.

“Tidak hanya orang yang ke luar dari Indonesia untuk tujuan wisata, tetapi juga untuk tujuan bisnis. Oleh sebab itu, outbound travel bisa menjadi sinyal perbaikan kondisi perekonomian dan perdagangan,” ujarnya.

Selain itu, peningkatan impor jasa perjalanan menjadi indikator konsumsi masyarakat mulai mengalami perbaikan.

Lebih lanjut, dengan semakin banyak maskapai Indonesia yang membuka jalur perjalanan ke luar negeri, artinya outbound wisatawan dapat menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia juga. (Yanita Petriella)

 

Published in Koran.bisnis.com